Posted by WhoKnew on the September 1, 2007
Menatap pada hampanya dunia
Mendengar pada sunyinya malam
Mencium pada udara yang tak jelas asalnya
Meraba pada kosongnya angin
Menanti, menunggu hingga kata maaf terucap
Memakan waktu hanya dengan memakan diri sendiri
Satu lagi tetesan air mata
Satu lagi kenangan-kenangan indah terlintas
Ingin membunuh, ingin mencerca, ingin mendendam
Ingin rasanya
Tapi bisa berbuat apa jika hati tak mengijinkan
Berharap pada sebuah kepastian yang sudah tahu akan menyayat batin
Berharap terus sampai gelapnya mimpi memanggil
Satu hari berlalu, apakah hari ini saatnya?
Hari ini tidak terjadi, apakah besok saatnya?
Hanya dapat bertanya pada sebuah keraguan
Lelah, letih, penat;
Tapi tidak ada satu ketenangan pun yang datang menghampiri
Memberikan berjuta-juta tawa palsu
Memasang wajah “aku baik-baik saja”
Namun satu detik berlalu pun rasanya tidak kurang dari satu jam
Terus mencari sebuah alihan untuk membuktikan kekuatan
Mencari sebuah alasan untuk tetap berdiri sempurna
Namun apalah artinya bila sebuah kerikil saja sudah meruntuhkan segalanya
Menatap, mendengar, mencium, meraba
Pada apalah itu yang mereka sebut namanya
Berharap pada sebuah kata maaf
Berharap pada beribu-ribu kenangan indah
Berharap pada berjuta-juta tawa bahagia
Yang tak bisa dirasakan saat ini…
Monday, November 3, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment